Posts Tagged “Renungan Harian”
Diambil dari buku Renungan Harian edisi November 2008.
Text of the day:
“Hidup bertanggung jawab adalah ungkapan syukur dan penghormatan atas anugerah serta kemurahan Allah”
Baca: 1 Yohanes 2:28-3:10
“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang suci (1 Yohanes 3:3)”
Takut Salah
“Ada adegan di mana aku takut salah. Aku takut ngabisin can (gulungan film-red) apalagi kita pakai tiga kamera. Jadi, aku akting sambil mikirin harga can.” Begitu salah satu kesan Artika Sari Devi tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam, dan film perekamnya berharga mahal, mendorong Tika untuk tampil secara berhati-hati. Takut salah.
Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah “direkam”. Seperti pemain film yang akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser, dan penonton, kelak kita juga harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di hadapan Sang Pencipta. “Film” yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena ditebus “bukan dengan barang yang fana … melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus” (1 Petrus 1:18,19).
Di hadapan tahta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semuanya akan dihakimi menurut tolok ukur kebenaran dan keadilan-Nya.
Seberapa jauh kesadaran ini berpengaruh pada cara kita menjalani hidup? Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus? Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia ini?
Kamera siap? Action!
-ARS-
No Comments »
Diambil dari buku Renungan Harian edisi November 2008.
Text of the day:
“Kerajinan dalam beribadah tanpa diiringi ketulusan dan kerendahan hati adalah nol besar”
Baca: Matius 21:18-22
“Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak menemukan apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja (Matius 21:19)”
Sikat Gigi
Seorang teman bercerita bahwa selama ini ia rajin menyikat gigi. Sejak kecil ibunya telah membiasakan dirinya untuk menyikat gigi paling sedikit dua kali sehari. Namun suatu hari, tiba-tiba giginya terasa ngilu dan berdarah. Ia pun pergi ke dokter dan dari pemeriksaan ia baru tahu bahwa selama ini caranya menyikat gigi salah. Sekilas dari luar giginya memang sehat, tetapi di dalam ternyata ada beberapa bagian yang keropos. Itu berarti, rajin saja tidak cukup, tetapi perlu diiringi dengan cara-cara yang benar.
Begitu juga dalam kehidupan rohani kita. Selama ini kita mungkin rajin beribadah di gereja, rajin berdoa, rajin berpuasa, dan sebagainya. Namun, kita tetap merasa “kosong”, tidak merasakan suka-cita dan damai sejahtera di hati. Orang-orang lain yang melihat hidup kita dari luar mungkin mengenal kita sebagai “orang baik”. Sayangnya, kita sendiri malah merasakan sebaliknya. Jika ini terjadi, berarti ada sesuatu yang salah dalam cara kita menjalani kehidupan rohani. Mungkin motivasi kita selama ini sudah keliru, atau pemahaman dan cara-cara kita melaksanakannya yang salah.
Itulah yang terjadi pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka rajin melaksanakan kewajiban keagamaan, bahkan aturan demi aturan mereka jalankan dengan sangat ketat, sehingga dari luar mereka tampak sebagai orang-orang saleh. Namun, di mata Tuhan Yesus ternyata kondisi mereka sebenarnya tidak demikian. Mereka tidak lebih seperti pohon ara yang berdaun lebat, tetapi tidak berbuah. Kerajinan mereka tidak ada artinya. Bagaimana dengan kita?
-AYA-
No Comments »
Diambil dari buku Renungan Harian edisi Oktober 2008.
Text of the day:
“Bila kita meminta petunjuk dari tuhan bersiaplah untuk menaatinya”
Baca: Yeremia 42:1-22, 43:1-7
“Semoga Tuhan, Allahmu, memberitahukan kepada kami jalan yang harus kami tempuh dan apa yang harus kami lakukan (Yeremia 42:3)”
Meminta Pendapat
Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita.
Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua pendapat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.
Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (42:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.
Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti.
-ALS-
No Comments »
Diambil dari buku Renungan Harian edisi Oktober 2008.
Text of the day:
“sikapi pencobaan dengan iman maka itu akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan”
Baca: Ayub 42:1-6
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5)”
Jembatan Emily
Emily hanyalah wanita biasa. Ketika mertuanya meninggal, suaminya diminta melanjutkan sebuah proyek raksasa pembangunan jembatan. Namun, di tengah proses pembangunan itu, suaminya sakit - lumpuh, tuli, dan sulit berkomunikasi. Saat itulah, sang suami, dalam keterbatasanya, mengajarkan berbagai hal mengenai pembangunan jembatan. Emily pun menjadi asisten utama suaminya dan berusaha belajar teknik pembangunan sendiri. Pada 1870, sebuah jembatan sepanjang 1.825 meter terbentang kokoh di atas East River. Jembatan tersebut menghubungkan Brooklyn dan Manhattan di Amerika Serikat. Itulah Brooklyn Bridge, yang berhasil dituntaskan pembangunannya oleh Emily Warren Roebling.
Pencobaan kerap membawa kita naik satu tingkat lebih tinggi. Melalui masalah, tidak jarang kita bertemu dengan kemampuan-kemampuan yang tidak terduga; belajar tentang arti pentingnya kasih, semangat kekeluargaan, makna persahabatan sejati, dan yang tak kalah penting, merasakan pengalaman penyertaan Tuhan yang luar biasa.
itulah yang dialami Ayub. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa segala yang ia miliki hilang lenyap. Namun, Allah menuntun Ayub melewati setiap lembah yang penuh duka dan kepedihan. Dan, ketika semuanya berlalu, Ayub mendapatkan pengalaman berharga. Ia mengalami sendiri penyertaan Allah. Katanya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (ayat 5).
Mungkin Anda tengah dalam pergumulan berat. Janagn putus asa. Tuhan punya rencana yang besar dalam hidup Anda.
-AYA-
No Comments »
Diambil dari buku Renungan Harian edisi Oktober 2008.
Text of the day:
“Kita tidak akan pernah menjadi orangtua yang baik jika kita berhenti berdoa untuk anak-anak kita”
Baca: Markus 7:24-30
“Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya (Markus 7:26)”
Berdoa Untuk Anak
Sebagai orangtua kristiani, kita memiliki kewajiban yang tak boleh dilupakan. Apakah itu? Berdoa untuk anak-anak kita! Dalam buku How to be a Good Mom, dikupas tentang pentingnya orangtua berdoa untuk anak-anaknya. Doa untuk anak-anak sungguh merupakan sesuatu yang penting dan tak dapat diabaikan!
Pokok doa pertama tentu kita berdoa untuk kehidupan rohani anak-anak. Berdoa agar mereka semakin mengenal Allah lebih dalam lagi. Dengan doa, anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, tanpa harus kita awasi dengan ketat pun mereka dapat menjadi anak-anak yang bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri.
Pokok dia selanjutnya, kita berdoa untuk perkembangan fisik dan mental mereka. Ada begitu banyak anak memiliki gambar diri yang rusak. Sulit menerima diri sendiri. Mereka mungkin minder, penuh sikap negatif, dan pesimis. Melalui doa, mintalah Allah membuat terobosan-terobosan baru dalam hidup mereka, sehingga hidup mereka diubahkan.
Masih banyak yang perlu didoakan. Berdoa untuk komunitas dan pergaulan anak-anak kita; untuk calon pasangan hidup mereka kelak; untuk kesehatan mereka; untuk studi atau aktivitas-aktivitas yang dijalani; untuk masa depan mereka; dan tentu saja masih ada banyak hal khusus yang bisa kita doakan.
Kita takkan pernah menjadi orangtua yang baik jika berhenti berdoa untuk anak-anak kita. Dengan berdoa untuk anak-anak, berarti kita mengakui keterbatasan kita sebagai orangtua dalam mendidik anak-anak. Dengan berdoa, kita mengizinkan Tuhan yang tak terbatas menyatakan kebaikan-Nya kepada anak-anak kita.
-PK-
No Comments »
Diambil dari buku Renungan Harian edisi Oktober 2008.
Text of the day:
“Jika damai yang Anda inginkan, mulailah dari keluarga Anda.” Bunda Teresa
Baca: Efesus 6:1-4
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah (Efesus 4:29)”
Ketegangan Keluarga
Banyak konflik orangtua dan anak dibingkai oleh kata-kata: “Bapak Ibu itu kuno!” Atau, “Anak zaman sekarang tidak tahu menghormati orangtua, beda dengan zaman kami dahulu”. Begitulah yang kerap terjadi dalam banyak rumah tangga. Lalu bagaimana ketegangan seperti ini mesti dikelola?
Paulus berpesan agar orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan serta bertindak sedemikian rupa agar anak paham yang mereka terima merupakan ekspresi kasih semata. Bisa jadi ajaran dan nasihat mengambil bentuk yang tegas, tetapi tak pernah ketegasan itu keluar dari hari yang membenci.
Sebaliknya, anak diminta menghormati orangtuanya, bukan hanya agar si anak beruntung (”supaya lanjut umurmu”, ayat 3). Anak perlu taat kepada orangtua yang hidup dalam Tuhan karena ini merupakan sebuah perintah; suatu keharusan! Namun, ingat juga pesan Paulus, “taatilah orangtuamu di dalam Tuhan”. Artinya, perspektif ketaatan kepada orangtua mesti berpusatkan kepada Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan itulah yang menjadi dasar ketaatan anak terhadap ayah dan ibunya.
Bisa saja orangtua berbuat salah, bahkan jahat. Terhadap kasus seperti ini, anak tentu harus lebih memegang kebenaran sebagai ekspresi imannya kepada Tuhan sebagai sumber segala kebenaran. Sekalipun demikian, janganlah orangtua diabaikan. Mereka tetap layak menerima hormat. Semoga sebagai anak, kita selalu menghargai orangtua dengan hati yang hormat, bukan dengan hati yang merasa “lebih” lalu meremehkan bahkan menihilkan orangtua sendiri.
-DKL-
No Comments »
|